Pembina kedelapan LBH Trisila

DR. H. Ahmad Basarah, M.H.

Administrator Selasa, 12 November 2019 16:43 WIB
Koleksi pribadi

DR. H. Ahmad Basarah, M.H., Wakil Ketua MPR RI


"Kunci keberhasilan sebagai bangsa yang besar dan majemuk dalam menghadapi berbagai ancaman dan tantangan adalah dengan memelihara persatuan nasional dengan memperkokoh nilai-nilai luhur bangsa yang termaktub dalam 4 Pilar MPR RI, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika"
(DR. H. Ahmad Basarah, M.H., Wakil Ketua MPR RI)

DR. H. Ahmad Basarah, M.H., bergabung menjadi Pembina Kedelapan LBH Trisila, yang berketepatan delapan tahun usia LBH Trisila. Bersamaan pula dengan delapan tahun gerakan bantuan hukum kultural sejak diperkenalkan pada 2011 dan dipraktikkan untuk berkontribusi membangun sistem hukum nasional.

Dr. H. Ahmad Basarah, MH, atau yang akrab disapa Baskara lahir di Jakarta pada 16 Juni 1968. Basarah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri (SDN) 01 Rawa Terate, Jakarta pada tahun 1976-1982, berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 168 Cakung, Jakarta tahun 1982-1985, lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 36 Rawamangun, Jakarta Timur tahun 1985-1988.

Setelah lulus SMA, Basarah melanjutkan studinya ke Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP), Lenteng Agung, Jakarta dari tahun 1988-1992 dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta sejak 1992-1995.


Jenjang pendidikan Strata 2 diambil di FISIP Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada tahun 1998 sampai 1999 dan Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta tahun 2007-2009. Sementara itu gelar doktornya (S3) ia peroleh di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah pada tahun 2016 lalu.


Sejarah mencatat, Basarah mantan aktivis mahasiswa yang memiliki pengalaman panjang dalam berbagai pergerakan mahasiswa. Ia aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), yang menjabat Sekretaris Jenderal Presidium GMNI tahun 1996-1999.


Sebagai tokoh pergerakan mahasiswa, Basarah kritis dan berani melakukan perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Generasi awal mahasiswa tahun 1990-an yang terlibat langsung dalam melahirkan Era Reformasi. Bahkan, jauh sebelum gerakan reformasi 98 menuntut Presiden Soeharto lengser, GMNI secara resmi membuat pernyataan sikap yaitu menolak calon tunggal dalam pemilihan presiden.


Purna dari gerakan mahasiswa, perjuangan kebangsaannya dilanjutkan melalui gerakan politik dengan bergabung dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan mengikuti Pemilihan Umum. Rakyat memberikan amanah kepadanya untuk menjadi Legislator di Parlemen, saat ini sudah menjabat anggota DPR empat periode (1999-2004, 2009-2014, 2014-2019 dan 2019 - 2024).


Saat di Parlemen, Basarah menjabat Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI 2014-2019 dan 2019-2024, Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI 2014-2019 dan menduduki kursi Wakil Ketua MPR RI periode 2014-2019 dan 2019-2024.


Sementara itu di struktur Partai, Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri, mempercayakannya menjabat Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan periode 2010-2015 dan periode 2015-2019. Pada Kongres V PDI Perjuangan di Bali, Basarah dipercaya menjadi Ketua DPP PDI Perjuangan masa bhakti 2019-2024.


Menduduki jabatan di pimpinan MPR dan struktur DPP PDI Perjuangan semakin mendorong dirinya untuk memperkokoh dan menebarkan ke seluruh penjuru Indonesia, nilai-nilai yang telah menjadi konsensus dasar berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.


Empat prinsip kebangsaan yang kemudian menjadi Program 4 Pilar MPR ini Ia tanamkan ke seluruh lapisan masyarakat. Julukan “Profesor Pancasila” disematkan kepadanya karena kegigihannya dalam upaya membentuk mental bangsa berdasarkan idelogi bangsa yang diyakininya sebagai solusi atas ancaman dan tantangan bangsa hari ini dan di masa yang akan datang. Gagasan dan pemikirannya senantiasa memberikan kesejukan dan mencerminkan karakter kenegarawanan.


Bagi Basarah, kunci keberhasilan sebagai bangsa yang besar dan majemuk dalam menghadapi berbagai ancaman dan tantangan adalah dengan memelihara persatuan nasional dengan memperkokoh nilai-nilai luhur bangsa yang termaktub dalam 4 Pilar MPR RI.


Kini di tengah pragmatisme yang mewarnai politik tanah air, Basarah justru seakan melawan arus dengan memilih jalan ideologi sebagai cara perjuangan politiknya. Basarah sengaja memilih jalan sunyi ideologi yang memang kurang diminati oleh sebagian besar anggota parlemen lainnya. Menurutnya, carut marut sistem bernegara Indonesia yang terjadi saat ini justru bersumber dari hulunya, yakni dilupakannya Pancasila sebagai dasar falsafah, batu pijakan dan bintang penuntun bangsa.


Itulah alasannya mengapa ia lebih tertarik aktif menekuni dan memperjuangkan aspek ideologi bangsa dalam perjuangan politiknya dengan nilai-nilai Islam dan Nasionalisme ajaran Bung Karno yang menjadi orientasi ideologinya sejak dulu.

T#gs Ahmad Basarahbantuan hukum kulturalLBH Trisila
FB Comments